Review Film, Drama Korea, Movie, Game dan Makanan

Penasaran?? Ini lho Rasanya Menikah Itu

Hallo teman - teman apakah anda sudah menikah atau belum? Sudah tau rasanya nikah gimana? Saya tebak pasti kebanyakan yg membaca artikel saya ini pasti anda belum menikah, iya khan? Kalau sudah tau rasanya mana mungkin cari review rasanya menikah. Hehehe.


Saya terinspirasi membuat cerita ini karena ada teman saya bernama MH alias Mbak Har yg lagi melangsungkan pernikahannya hari ini dan resepsinya besok. Semoga MH dan pasangannya bisa membina keluarga yg langgeng, sakinah, mawadah, warohmah, dan cepat diberi momongan. Aminnn.

Bukan dari teman saya saja, tapi saya dulu sebelum menikah juga mendapatkan kegalauan dan ketakutan karena pernikahan.

Yah gimana enggak ya? Berkaca dari keluarga saya saja, saya terlahir dari keluarga broken home. Mama menjadi single parent setelah perceraian dengan bapak saya.

Saya juga sempat merasakan punya ayah tiri yg hidung belang, bahkan dia pernah ngajak saya nikah juga. Apa gak gendeng namanya?

Saya sempat memikirkan apakah menjalani bahhtera rumah tangga sesulit itu? Sampai mereka tidak bisa memenuhi janji suci cinta mereka sampai kakek nenek, bahkan sampai akhir ajal menjemput? Apakah mereka tidak kasihan sama anak – anaknya?

Belum lagi baru – baru ini ada tayangan bioskop dengan judul menarik perhatian saya yaitu “Takut kawin.”

Sebenarnya kalau dipikir – pikir lagi, kenapa harus takut dengan apa yg belum kita lakukan dan apa yg belum terjadi? Semua hal memang ada resikonya.

Menikah kalau gagal ya berujung dengan perceraian. Hal yg lain juga begitu, apakah semua orang yg berkendaraan terjamin keselamatannya? Ada yg bersepeda motoran jatuh, kecelakaan, dan ada juga yg selamat. Semua itu sudah menjadi takdir kita.

Kita hanya perlu menjalankan takdir dengan menjalani tugas dan kewajiban kita. Untuk hasil serahkan pada Allah SWT.

Menikah itu ya rasanya adalah sebuah kegembiraan dan suatu hasil dari pembuktian cinta pasangan kepada kita. Karena dia telah berani melamar kita untuk menjadi istrinya, mau menerima kita apa adanya, mau menjalani hidupnya bersama - sama dengan kita. Susah, sedih, senang akan dijalani terus – menerus.

Buat saya, menikah bukan berarti akhir jalan dari cerita cinta 2 pasangan, tapi menikah adalah sebuah awal dari kesetiaan dan ujian cinta dimulai. Apakah pasangan anda mampu menghadapi cobaan dengan anda? Apakah pasangan anda bisa setia selamanya terhadap anda? Semua akan terjawab disini.

Saat menikah, seorang istri sebaiknya menjalankan tugasnya dengan baik. Begitu pula untuk suami. Ada yg belum tahu tugas seorang istri? Tugas utama seorang istri adalah melayani suami.

Melayani suami mulai dari makanan alias memasakkan makanan enak buat suami, membuatkan kopi, membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci baju suami, menyetrika, menjemur, merapikan tempat tidur dan lain – lain.

Kalaupun anda ingin membantu suami untuk bekerja pun gak masalah. Asal anda juga bisa melakukan pekerjaan seorang istri di rumah. Kalau ada pembantu rumah tangga juga gak masalah.

Tapi paling enggak jangan semua pekerjaan rumah serahkan pada PRT tapi ada kalanya anda menyiapkan sendiri pakaian suami, memasakkan masakan yg disukainya, dan membuat suami betah di rumah adalah hal tepat yg harus dilakukan seorang istri.

Jika anda sudah menjalani tugas dan kewajiban seorang istri dengan baik pastilah tidak ada masalah dengan anda. Kecuali kalau anda menjadi istri yg malas.

Suami kelaparan dan akhirnya dia memilih makan sama teman – temannya, suami ga betah di rumah karena rumah kotor dan akhirnya dia lebih suka bermain keluar.

Semakin sering suami keluar, apalagi tanpa anda. Pasti dia selalu bertemu dengan orang baru, tidak menutup kemungkinan untuk bertemu dengan wanita lain yg lebih baik dari anda. Kalau sudah begini jangan salahan suami karena pelayanan sebagai istri kurang baik.

Kecuali jika anda sudah melayani dengan baik, tapi suami anda tidak bisa menghargai. Suami punya tempramen yg buruk, dan suami suka genit sama cewek lain. Kalau sudah seperti itu buat apa dijadikan suami?

Saya ketika menikah mulai belajar yg namanya memasak sendiri. Pada mulanya di awal kami menikah, saya dan suami selalu masak bareng. Karena suami punya pengalaman jadi koki di restoran banyak, maka dia yg ngajarin saya. Kadang kami berdua juga lihat resep.

Bagi tugas itulah yg sering kami lakukan. Saya yg bagian goreng, suami yg bagian ngulek sambelnya. Saya yg bagian nyuci baju, dia yg nyuci piring. Walaupun dia sibuk kerja, alhamdulillah masih suka membantu kerjaan saya di rumah.

Waktu saya kerepotan kerjapun suami juga mau masak nasi, cuci piring dan masak sendiri tanpa disuruh. Memang kadang saling membantu juga diperlukan. Kemaren juga saya bantu kerjakan tugasnya, soalnya dia ketiduran waktu nulis.

Pertengkaran kecil juga sering terjadi ketika kami membahas sesuatu. Misalnya tentang persebaya dan arema, belum lagi ketika suamiku ga cepet pulang, dan soal kebiasaannya yg buruk gak bisa diubah, meletakkan barangdi sembarang tempat, dan lain – lain.

Dengan menikah kita akan tahu kebiasaan buruk, kebiasaan tidur, kesukaannya, ketidaksukaannya dan akan terasa semakin dekat tanpa batas. Jadi menikah itu gak Cuma enak aja, tapi juga menantang, dan ada lika - likunya.

Menikah adalah menggabungkan dua orang yg berbeda jenis, berbeda sifat, dan berbeda kebiasaan. Walaupun kadang terasa sulit tapi dengan cinta semua perbedaan tersebut akan sirna. Kadang kita juga perlu saling mengalah dan saling mengerti, bukannya egois.

Menikah itu kadang rindu juga dengan namanya rasa pacaran. Pasalnya ketika menikah intensitas chat berkurang. Tanya sudah makan atau belum? Lagi dimana? Makan apa?

Tapi emang pertanyaan itu gak ada gunanya lagi ketika menikah. Pastilah tahu kalau istri lagi di rumah, apalagi kalau istri mau keluar juga pamit sama suami. Jadi ga perlu tanya, suami pun sudah ngerti. Makan apa juga menu di rumah jga sama. Hahaha.

Enaknya juga menikah itu bebas daripada yg namanya pacaran. Bebas karena memang sudah halal, sudah muhrim, gak menimbulkan dosa, tidak ada gunjingan sana sini kalau berduaan. Jadi mau dipegang apanya aja gak masalah dalam hukum atau agama.

Jadi buat mengungkapkan rasa kasih sayang dan cinta juga bisa lebih optimal lagi. Bisa pakai pelukan, ciuman, dan lain – lain. Dengan menikah kita juga bisa meneruskan keturunan. Membuat baby dengan cinta, dan membesarkan buah hati kita bersama – sama sampai dia besar nanti, semoga memang usia kami memungkinkan. Semua tahap kehidupan dimulai dari menikah.

Jadi buat anda yg masih mikir – mikir lagi buat nikah, sebaiknya jangan takut! Berumah tangga itu walaupun terlihat berat sebenarnya mudah jika dilalui bersama.

Apalagi jadi seorang istri untuk suami yg merintis karir pastilah disana kesetiaan istri diuji. Istri harus betah dengan gaji suaminya yg pas – pasan, harus bisa hemat, dan tidak mudah mengeluh.

Sebaliknya kesetiaan seorang suami diuji saat dia kaya, apakah dia masih mencintai istrinya yg dulu, apa malah dia memilih mencari baru karena uang di tangan sudah banyak? Bisa beli apapun dan mudah sekali mencari wanita lain. Naudzubillah semoga dijauhkan sifat seperti ini dari suami tercinta.

Jadi bisa diambil kesimpulan ketika orang sudah menikah itu, semuanya berubah. Anda tidak sendiri lagi karena kemana – mana akan ditemani suami. Lebih mandiri lagi karena gak ada mama yg masakin, tapi sebaliknya kita yg harus masak. Mau pergi kemana – mana gak bisa bebas lagi karena harus ada ijin suami. Anda harus siap dengan semua itu.

Buat suami harus tahu kewajibannya karena gaji harus diserahkan istri untukbelanja karena anda tidak hidup sendiri lagi tapi anda harus menghidupi orang yg anda cintai. Makanya mapan itu wajib karena orang itu gak makan cinta aja, tapi makan nasi jadi pakai uang.

Sebenarnya mapan juga gak penting sih, yg penting itu cowoknya punya kerja karena harta bisa dicari bersama. Cewek juga bisa kerja membantu cowoknya.

No comments:

Post a Comment

Powered by Blogger.

@templatesyard